Dalam kehidupan manusia
dibumi ini tidak pernah luput dari masalah, dan masalahnya terkadang tidak
semua orang bisa mengatasi masalah itu sendiri.
Ada yang mengatakan kalau
besar kecilnya itu tergantung dari orang mensikapinya. Memang itu benar adanya,
namun kita juga harus tahu bahwa manusia akan di uji sesuai dengan kadar dan
kemampuanya. Artinya semakin kita di uji dengan ujian yang lebih berat,
disinilah Allah sedang menuntun kita menjadi lebih baik dan lebih kuat, karena
sesungguhnya Allah sangat sayang terhadap kita semua sebagai hamba-Nya.
Berikut Tips Menghadapi Masalah yang ada
1. Tenangkan Pikiran
Setiap orang pasti mengalami
sebuah kehidupan yang sulit. Salah
satunya menghadapi masalah besar yang membuat kita stress bahkan bisa jadi
putus asa.
Langkah
awal yang harus kita yakini adalah bahwa masalah besar itu adalah sebuah ujian
dan ujian itu untuk kebaikan kita semua.
Barangsiapa
dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka dia diuji (dicoba dengan suatu
musibah) (HR Bukhari)
Kita
bisa jadi tidak akan meraih pencapaian ini jika kita tidak sedang menghadapi
masalah besar.” Ada peningkatan luar biasa, setelah kita mampu mengatasi
masalah besar.
Bisa
jadi, dengan masalah besar yang ada dihadapan, kita terpacu untuk
mengoptimalkan sebanyak mungkin potensi yang kita miliki. Masalah itu sebuah
“cambuk” agar kita lebih baik lagi.
Bukan
hanya itu, masalah besar pun bisa menjadi sebuah teguran, agar kita lebih dekat
lagi dengan Allah. Mungkin selama ini kita melupakan-Nya karena kesibukan
dunia.
Kunci
bagaimana menjadikan masalah besar sarana perbaikan adalah sikap kita dalam
menghadapi masalah itu.
Kesalahan
pertama yang sering terjadi adalah panik saat menghadapi masalah besar. Saat
dikatakan supaya jangan panik, dia berkata “Bagaimana saya tidak panik?
Masalahnya ….”.
Pertanyaanya,
Kita mau panik atau mau solusi? Panik tidak akan memberikan manfaat, malah
membuat pikiran menjadi pendek dan tidak bisa mengatasi masalah. Yakinlah bahwa
kita mampu mengatasi masalah itu.
Allah
tidak akan memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah
berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS.65:7)
Allah
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS.2:286)
Agar
hati tenang menghadapi masalah, ingatlah 2 ayat diatas. Tenang, kita akan
sanggup. Meski saat ini bingung dan takut, kita pasti akan menemukan solusinya.
Amin...
2. Berfikir Positif
Berpikir positif merupakan
sikap mental yang melibatkan proses memasukan pikiran-pikiran, kata-kata, dan
gambaran-gambaran yang membangun bagi perkembangan pikiran kita. Pikiran
positif menghadirkan kebahagiaan, sukacita, kesehatan, serta kesuksesan dalam
setiap situasi dan tindakan kita. Apapun yang pikiran anda harapkan, pikiran positif
akan mewujudkannya. Jadi berpikir positif juga merupakan sikap mental yang
mengharapkan hasil yang baik serta menguntungkan.
Tidak semua orang menerima
atau mempercayai pola berpikir positif. Beberapa orang menganggap berpikir
positif hanyalah omong kosong, dan sebagian menertawakan orang-orang yang
mempercayai dan menerima pola berpikir positif. Diantara orang-orang yang
menerima pola berpikir positif, tidak banyak yang mengetahui cara untuk
menggunakan cara berpikir ini untuk memperoleh hasil yang efektif.
Kita sering mendengar orang
berkata: “Berpikirlah positif!”, yang ditujukan bagi orang-orang yang merasa
kecewa dan khawatir. Banyak orang tidak menganggap serius kata-kata tersebut,
karena mereka tidak mengetahui arti sebenarnya. atau menganggapnya tidak
berguna dan efektif.
Jika kita memiliki sikap yang
positif, sikap-sikap tersebut akan menghasilkan perasaan-perasaan yang positif,
gambaran-gambaran yang baik, dan kita akan melihat dalam mata pikiran kita apa
yang kita inginkan. Hal ini akan memberikan pencerahan, lebih banyak kekuatan,
dan kebahagiaan. Bahkan pikiran positif juga akan memberikan beragam manfaat
bagi kesehatan anda.
Setiap dari kita mempengaruhi
orang-orang yang kita temui, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal
ini terjadi secara naluriah, dalam pikiran bawah sadar anda, yang terpancar
melalui pikiran dan perasaan. Orang di sekeliling kita dapat merasakan aura
kita dan dipengaruhi oleh pikiran kita, juga sebaliknya. Wajarkah jika kita
ingin berada di sekitar orang-orang yang positif dan menghindari orang-orang
yang negatif? Orang lebih tergerak untuk membantu kita jika kita bersikap
positif, dan mereka tidak menyukai dan menghindari siapapun yang bersikap
negatif.
Pikiran-pikiran, kata-kata,
dan sikap negatif akan menghasilkan mood serta tindakan yang negatif dan tidak
menyenangkan. Semua hal ini akan berujung pada kegagalan, frustrasi, dan
kekecewaan.
Untuk merubah pikiran anda
menjadi positif, diperlukan latihan dan kemauan untuk merubah diri anda karena
sikap dan pola pikir tidak dapat berubah dalam sekejap.
Kekuatan pikiran merupakan
kekuatan dahsyat yang selalu membentuk kehidupan kita. Proses pembentukkan
biasanya dilakukan di dalam pikiran bawah sadar kita, namun sangatlah mungkin
untuk melakukan proses tersebut secara sadar. Abaikan apapun pendapat orang
lain tentang diri kita ketika kita mengubah pola pikir.
Gunakan kata-kata positif
dalam suara hati anda atau ketika anda berbicara dengan orang lain.
Tersenyumlah sedikit lebih banyak, karena senyuman akan membantu anda untuk
berpikir lebih positif. Abaikan perasaan malas atau keinginan untuk berhenti.
Jika anda bertahan, anda akan berubah pola pikir anda.
Saat pikiran negatif memasuki
pikiran anda, anda harus mewaspadainya dan menggantikan pikiran tersebut dengan
pikiran yang lebih baik. Pikiran negatif akan mencoba memasuki pikiran anda
lagi, dan sekali lagi anda harus menggantikannya dengan pikiran positif.
Jika tiba-tiba merasakan
perlawanan dari dalam diri anda ketika anda berusaha mengganti pikiran-pikiran
negatif tersebut, jangan menyerah. Tetap fokuskan diri anda pada
pikiran-pikiran yang positif dan menyenangkan.
Terlepas dari keadaan anda
saat ini, berusahalah untuk berpikirlah positif. Pikirkan hasil serta situasi
yang menguntungkan anda, dan keadaan akan berubah sesuai dengan pikiran anda.
Perubahan ini tentunya membutuhkan waktu, namun pada akhirnya perubahan akan
terjadi.
3. Tetap Semangat Dan Jangan Putus Asa
Dalam Keadaan apapun kita tidak boleh lengah,
bangkitkan semangat agar hati ini tetap kuat dalam menghadapi cobaan/ujian yang
sedang Allah berikan kepada kita, jadikan ujian itu justru sebgai pemacu hidup
kita agar lebih maju lagi, jangan kalah dengan cobaan yang nantiya malah
membuat kita jadi down, ingat!!! Cobaan/ujian itu akan menjadikan kita menjadi
lebih baik menjadikan tingkatan kita lebih tinggi, terkadang kita sendiri tidak
mengerti akan makna dari cobaan itu sendiri, yang ada terkadang kita salah
mengerti bahwa cobaan itu karena Allah tidak sayang terhadap kita, kita suka
lupa untuk intropeksi diri kita sendiri maka dari itu kita jadi lupa mengoreksi
makna dari cobaan itu sendiri.
Berhentilah menyalahkan keadaan apalagi sampe
menyalahkan Allah sang pencipta, marilah kira memahami apa yang ada dalam diri
kita, baik atau buruknya dalam pandangan manusia, jadilah manusia yang pantang
mundur dan tetap semangat mengharap Ridho Allah Swt.
Semoga kita semua bisa mendapatkan Ridho-Nya.
Amin..Yaa Robbal allamin...
Allah menciptakan manusia
dengan segala keterbatasan dan kelemahannya disamping kelebihan dan
kekuatannya, inilah mengapa kita memerlukan pertolongan Allah. Kita harus
memahami keterbatasan dan kelemahan ini agar kita menyadari akan kelemahan kita
dan mampu mengatasi kelemahannya tersebut.
Sebagai
makkhluk lemah, manusia diciptakan dengan keterbatasan fisik dan akal. Fisik
manusia tidak akan mampu menggerakan alam semesta ini dengan tenaganya, bahkan
juga akal manusia dengan berbagai hasil teknologinya. Manusia sangat lemah
dihadapan Allah sehingga diperlukan untuk meminta bantuan dan pertolongan Allah
SWT.
Memikul
amanat itu memerlukan ilmu dan pengamalan
sehingga tidak mengkhianati amanat tersebut. Apabila manusia berilmu dan
mampu mengamalkannya dengan istiqamah maka terlepas dari kezaliman dan
kebodohan.
Sebagai
makhluk lemah dan bodoh, sudah sewajarnya jika kita selalu meminta pentunjuk
kepada Allah dan menjalankan semua petunjuk yang telah ada, yang telah
tercantum dalam Al Quran dan dicontohkan oleh Rasul-Nya. Sungguh sombong
manusia yang tidak memerlukan petunjuk-Nya atau mereka-rekanya sesuai dengan
pikirannya sendiri.
Apakah kamu mengira akan masuk surga,
Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu
sebelum kamu? mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang
beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah,
Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.(QS. Albaqarah:
214)
Cara agar mendapatkan pertolongan Allah tentu
dengan cara meminta kepada-Nya. Dan seperti tertulis diayat diatas, Allah sudah
berjanji akan mengabulkan permintaan kita. Maka berdo’alah!
“Tapi
saya sudah berdo’a, belum juga dikabulkan.”Serius? Sudah berdo’a?
Yuk
kita baca lagi Ayat Al Quran lainnya:
“Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepada-mu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a.” [QS.
Al-Baqarah: 186]
Tuh,
Allah itu dekat. Allah mengambulkan permohonan orang berdo’a.
Apakah
Allah akan mengingkari janji-Nya?
Jawabannya
tentu tidak. pasti Allah menepati janjinya.
Jika
do’a kita tidak dikabul, kira-kira siapa yang salah?
Yah,
mungkin kita sendiri yang salah. Entah saat berdo’a atau sikap kita terhadap
do’a. Kalau pun tidak salah, mungkin masih ada yang kurang saat kita berdo’a.
Rasulullah
Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Murah hati. Allah malu
bila ada hamba-Nya yang menengadahkan tangan (memohon kepada-Nya) lalu
dibiarkannya kosong dan kecewa.” (HR. Hakim).
Apakah
kita hamba-Nya? Yang benar-benar menghambakan diri beribadah kepada-Nya? Atau
hanya inget saat ada kesulitan saja?
Ini
dia bahan evaluasi kita. Sejauh mana kita benar-benar menjadi hamba Allah. Atau
kita sering melupakan-Nya?
Ini
yang pertama, mungkin pertolongan Allah tidak datang karena kita sendiri yang
salah, yang tidak benar-benar menjadi hamba, hanya inget kepada Allah saat
butuh. Lain kali, kalau lagi seneng tetap ingat Allah dan beribadah dengan
rajin sebagaimana layak disebut hamba Allah.
Jika
merasa diri banyak dosa, masih lalai dan malas beribadah, jangan berputus asa.
Allah masih bisa mengambulkan do’a kita. Kita belajar kepada nabi Yunus as saat
di dalam perut ikan paus.
Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus),
ketika ia pergi dalam Keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan
mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam Keadaan yang sangat
gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau,
Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari
pada kedukaan. dan Demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS. Al-Anbiyaa’ :
87-88)
Lihat,
bagaimana nabi Yunus as mengakui kesalahan yang beliau lakukan sehingga do’anya
dikabulkan dan selamat dari perut ikan paus. Maka akui kesalahan diri kita,
mohon ampun, dan teruslah berdo’a.
OK,
adakah penghalang lain yang menyebabkan do’a dikabulkan?
Coba
kita simak 2 hadist berikut ini:
Rasulullah
Saw. bersabda, “Apabila kamu berdoa, janganlah berkata, ‘Ya Allah, ampunilah aku kalau
Engkau menghendaki, rahmatilah aku kalau Engkau menghendaki, dan berilah aku
rezeki kalau Engkau menghendaki.’ Hendaklah kamu bermohon dengan kesungguhan
hati sebab Allah berbuat segala apa yang dikehendaki-Nya dan tidak ada paksaan
terhadap-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Hati manusia
adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain.
Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka mohonlah dengan penuh
keyakinan bahwa doamu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan doa orang
yang hatinya lalai dan lengah.” (HR. Ahmad)
Sudahkah
yakin? Yakinkah
do’a kita aka dikabulkan?
Ayo,
tanya hati yang terdalam. Yakinkah … yakinkah?
Ciri
orang yang yakin dia akan tenang, tidak gelisah, tidak grasa grusu, dan tidak
stress. Kenapa, karena dalam hati terdalam dia yakin permintaanya akan Allah
kabulkan.
Jadi,
jika Anda sudah berdo’a, tenanglah. Allah akan mengabulkan.
Sebenarnya,
kenapa tidak bisa. Bagi Allah adalah sangat mungkin menolong kita dengan cepat.
Namun semua adalah hak Allah mau kepada menolong kita. Kita tidak bisa
menentukan kapan pertolongan harus datang. Itu semua hak Allah.
Jadi
jangan mendesak Allah. Serahkan kepada-Nya. Apa yang terbaik dan kapan itu
datang, hanya Allah yang mengetahui. Justru kalau kita tergesa-gesa, malah
sebaliknya, do’a kita tidak dikabulkan.
Hai orang-orang yang beriman jika kamu
menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad:7)
Sesungguhnya Allah pasti menolong
orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi
Maha Perkasa. (QS.Al Hajj : 40)
Cara
menolong agama Allah tiada lain dengan menegakan kalimat Allah di muka bumi,
dengan cara berdakwah dan berjihad serta peduli dengan umat-Nya yang sedang
dilanda kesulitan.
Dari
Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau
bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah
akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang
menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan
di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan
menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya
selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya“. (HR. Muslim, lihat
juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).
Saya
juga sedang bermasalah, butuh pertolongan, tapi harus melepaskan kesulitan
orang lain? Bagaimana mungkin?
Jika
ada teman, saudara, tetangga, atau siapa pun yang sedang kesulitan, bantu saja.
Maka Allah akan melepaskan kesusahan kita. Yakin, itu hadist shahih.
Jadi
bukan meminta orang lain melepaskan kesulitan kita, justru sebaliknya kitalah
yang melepaskan kesulitan orang lain.
Jika
berharap pertolongan Allah, amalkan. Bantulah kesusahan orang lain.5. Pasrah Dan Tawakal
Seringkali dijumpai
dalam firman-Nya, Allah Swt
menyandingkan antara tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini
menandakan bahwa tawakal merupakan perkara yang sangat agung, yang tidak
dimiliki kecuali oleh orang-orang mukmin. Bagian dari ibadah hati yang akan
membawa pelakunya ke jalan-jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Diantara firman-Nya tentang
tawakal ketika disandingkan dengan orang-orang beriman, “… dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada
Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (QS. Al Ma’idah:
11). Dan firman-Nya,”Sesungguhnya
orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar
hatinya, dan apabla dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambahlah imannya,
dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal” (QS. Al Anfal : 2).
Definisi
tawakal
Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
“Hakikat
tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh
maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari
urusan-urusan dunia dan akhirat”
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,“Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada
Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi,
disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah
upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan
syari’at.”
Dari definisi sebelumnya para
ulama menjelaskan bahwa tawakal harus dibangun di atas dua hal pokok yaitu
bersandarnya hati kepada Allah dan mengupayakan sebab yang dihalalkan. Orang
berupaya menempuh sebab saja namun tidak bersandar kepada Allah, maka berarti
ia cacat imannya. Adapun orang yang bersandar kepada Allah namun tidak berusaha
menempuh sebab yang dihalalkan, maka ia berarti cacat akalnya.
Tawakal bukanlah pasrah tanpa
berusaha, namun harus disertai ikhtiyar/usaha. Rasulullah Saw telah memberikan
contoh tawakal yang disertai usaha yang memperjelas bahwa tawakal tidak lepas
dari ikhtiyar dan penyandaran diri kepada Allah.
Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu
‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seandainya
kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian
rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi
hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR.
Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam
Silsilah Ash Shohihah no. 310)
Tidak kita temukan seekor
burung diam saja dan mengharap makanan datang sendiri. Rasulullah Saw memberikan
permisalan ini, jelas sekali bahwa seekor burung pergi untuk mencari makan,
namun seekor burung keluar mencari makan disertai keyakinan akan rizki Allah,
maka Allah Ta’ala pun memberikan rizkiNya atas usahanya tersebut.
1. Bertawakal hanya
kepada Allah saja. Allah berfirman: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit
dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka
sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak
lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 123).
2. Berkeyakinan yang kuat bahwa
Allah Maha mampu mewujudkan semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan
semua yang didapatkan hamba hanyalah dengan
kehendak Allah. Allah berfirman,“Mengapa kami
tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami,
dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu
lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal
itu berserah diri.” (QS.
Ibrahim: 12).
3. Yakin bahwa Allah akan
merealisasikan apa yang di-tawakal-kan seorang hamba apabila ia mengikhlaskan
niatnya dan menghadap kepada Allah dengan hatinya. Allah berfirman, “Dan barangsiapa
yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya
Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.“ (QS.
Ath-Thalaq: 3).
4. Tidak putus asa dan patah
hati dalam semua usaha yang dilakukan hamba dalam memenuhi kebutuhannya dengan
tetap menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka
katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya
aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.’”(QS.
At-taubah: 129).
Apabila seorang hamba
bertawakal kepada Allah dengan benar-benar ikhlas dan terus mengingat keagungan
Allah, maka hati dan akalnya serta seluruh kekuatannya akan semakin kuat
mendorongnya untuk melakukan semua amalan. Dengan besarnya tawakal kepada Allah
akan memberikan keyakinan yang besar sekali bahkan membuahkan kekuatan yang
luar biasa dalam menghadapi tantangan dan ujian yang berat.
Dengan mendasarkan diri pada
keyakinan bahwa hanya Allah saja yang dapat memberikan kemudharatan maka
seorang mukmin tidak akan gentar dan takut terhadap tantangan dan ujian yang
melanda, seberapapun besarnya, karena dia yakin bahwa Allah akan menolong
hambaNya yang berusaha dan menyandarkan hatinya hanya kepada Allah. Dengan
keyakinan yang kuat seperti inilah muncul mujahid-mujahid besar dan ulama-ulama
pembela agama Islam yang senantiasa teguh di atas agama Islam walaupun
menghadapi ujian yang besar, bahkan mereka rela mengorbankan jiwa dan raganya
untuk agama Islam.
Tawakal yang sebenarnya kepada
Allah Swt, akan menjadikan hati seorang mukmin ridha kepada segala ketentuan
dan takdir Allah, yang ini merupakan ciri utama orang yang telah merasakan
kemanisan dan kesempurnaan iman.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan kepada
Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.”
(QS. al-Ma’idah: 23). Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menyandarkan
hati semata-mata kepada Allah, karena tawakal adalah termasuk ibadah








0 comments:
Post a Comment